Oleh: Andi Sultan Bakri,SKM.,M.Sc (Pemerhati Sosial Budaya Sulsel di Kendari)
MEDIASULTRA.CO.ID I KENDARI – Menjelang pemilihan Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Kendari, diskursus tentang kriteria pemimpin ideal kembali mengemuka.
KKSS bukan sekadar organisasi paguyuban biasa. Di tanah rantau, KKSS adalah rumah besar, payung, dan sekaligus jangkar identitas bagi perantau Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.
Di Kendari, warga KKSS bukan minoritas. Kita adalah bagian dari denyut ekonomi, pendidikan, dan birokrasi. Oleh karena itu, memilih Ketua BPD KKSS Kota Kendari tidak boleh sekadar memilih figur populer, tetapi memilih pammaliang (pengayom).
1. KKSS di Rantau: Lebih dari Sekadar Paguyuban
Dalam sosiologi, KKSS di Kendari adalah community of solidarity. Fungsinya tiga: (1) Sebagai wadah adaptasi bagi warga baru datang dari Sulsel, (2) Sebagai mediator ketika terjadi konflik sosial, (3) Sebagai penggerak ekonomi solidaritas (abbulo sibatang).
Nilai luhur orang Sulsel harus menjadi landasan kepemimpinan KKSS, yaitu Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi saling memanusiakan, saling mengingatkan, dan saling memuliakan. Ditambah falsafah “Pura Manre Si Manre, Pura Sialle Si Alle” siapa yang sudah makan ajak yang belum, siapa yang sudah dapat rezeki ajak yang belum. Inilah jiwa mengayomi.
2. Tiga Kriteria Kunci Ketua BPD KKSS Kota Kendari Masa Depan
Berdasarkan telaah kebutuhan organisasi di kota yang heterogen seperti Kendari, maka Ketua KKSS yang kita butuhkan adalah:
A. Mengayomi dan Merangkul Semua Kalangan (Inklusif, Bukan Eksklusif)
Ketua KKSS tidak boleh hanya menjadi ketua untuk kelompok Bugis Bone, atau Makassar Gowa, atau Wajo saja. Dia harus menjadi milik semua rumpun. Di Kendari ada pengusaha, ada ASN, ada pedagang di Pasar Mandonga, ada mahasiswa, ada sopir pete-pete. Semua harus merasa dirangkul.
Pemimpin yang mengayomi adalah pemimpin yang hadir tidak hanya saat pesta, tapi juga saat warga tertimpa duka, saat ada sengketa lahan, saat ada warga yang berurusan dengan hukum. Ia menjadi penyejuk.
B. Tidak Tipis Telinga (Prinsip Getteng dan Lempu)
Pepatah Bugis mengatakan Taroi Karawu, Nametti Pabbere – simpan kebaikan, tapi jangan simpan kebencian. Penyakit organisasi paguyuban adalah gosip, bisik-bisik, dan adu domba.
Ketua yang tipis telinga mudah dihasut oleh satu-dua orang di lingkarannya, mudah memutuskan silaturahmi hanya karena laporan sepihak.
Padahal nilai Bugis-Makassar mengajarkan Getteng – teguh pada prinsip dan Lempu — jujur dan adil dalam mengambil keputusan. Mendengar semua pihak, mengkonfirmasi (tabayyun), baru memutuskan.
Ketua yang tipis telinga akan memecah KKSS menjadi kubu-kubu. Ketua yang berprinsip akan mempersatukan.
C. Motivator Kerukunan Antar Etnis di Tanah Rantau
Tantangan terbesar KKSS di Kendari hari ini bukan lagi konflik internal sesama Bugis-Makassar, tetapi bagaimana menjaga kerukunan dengan suku Tolaki sebagai tuan rumah, serta suku Muna, Buton, dan lainnya.
Kita butuh ketua yang mampu menerjemahkan falsafah Bugis “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” secara nyata. Ia harus mampu mengajak warga KKSS0 untuk menghormati kearifan lokal Kendari, aktif dalam kegiatan lintas etnis, dan tidak eksklusif.
Ketua harus menjadi motivator yang mengajak warga untuk meningkatkan kualitas diri, bukan hanya kumpul-kumpul. Mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru, mendorong anak-anak muda KKSS untuk berprestasi, dan menjaga nama baik Sulsel di rantau.
3. Penutup: Memilih Pemersatu, Bukan Pemecah
Musyawarah Daerah KKSS Kota Kendari harus menjadi momentum konsolidasi, bukan transaksi. Jangan memilih karena kedekatan darah atau kepentingan politik sesaat.
Mari kita memilih sosok yang:
1. Kalau kita susah, dia ada.
2. Kalau ada masalah, dia mendengarkan semua, bukan hanya satu pihak.
3. Kalau berbicara, yang keluar adalah ajakan untuk rukun, bukan ajakan untuk berkelompok.
Semoga BPD KKSS Kota Kendari ke depan dipimpin oleh nakhoda0 yang mampu membawa kapal besar ini berlayar dengan aman di Teluk Kendari, dengan layar terkembang bertuliskan Satu Keluarga, Satu Hati, untuk Kendari yang Rukun.
Abbulo Sibatang, Acca Sipitang, Sipakatau.
Kendari, 3 Oktober 2026















