DaerahNewsPeristiwa

Dokter Abai: Oknum Dokter di Kendari Dituding Tidak Empati Setelah Terlibat Laka Lantas dan Abaikan Korban

×

Dokter Abai: Oknum Dokter di Kendari Dituding Tidak Empati Setelah Terlibat Laka Lantas dan Abaikan Korban

Sebarkan artikel ini

MEDIASULTRA.CO.ID I KENDARI – Oknum dokter inisial FF di Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah dan Otak (RSJPDO) Oputa Yi Koo, Kendari, Sulawesi Tenggara, dituding tidak memiliki empati setelah terlibat kecelakaan lalu lintas dengan seorang pengmotor pada Rabu, 18 Februari 2026.

Korban, yang merupakan kakak dari Dandi, mengalami 27 jahitan di lengan kanannya dan tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Dandi menyatakan bahwa mediasi antara keluarga korban dan dokter FF selalu berujung pada kebuntuan, dan dokter FF diduga melepas tanggung jawab.

Dokter FF juga tidak menengok kondisi korban dan tetap bersikukuh bahwa pihaknya benar. Pihak keluarga merasa sangat tidak puas dengan sikap dokter FF yang tidak menunjukkan empati terhadap korban.

Dandi mengatakan bahwa korban adalah anak pertama dan telah berkeluarga, sehingga kecelakaan ini sangat berdampak pada kehidupan keluarganya.

“Akibat kecelakaan itu, kakak saya menderita 27 jahitan total di lengan kanannya, ia tidak bisa beraktivitas seperti sedia kala untuk sementara waktu,” ujarnya.

Pihak keluarga meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sultra dan RSJPDO Oputa Yi Koo mengambil tindakan tegas berupa etik dan sanksi terhadap dokter FF. Mereka berharap agar dokter FF dapat bertanggung jawab atas perbuatannya.

Kasat Lantas Polresta Kendari, Iptu Kevin, membenarkan penanganan kasus tersebut melalui unit gakkum.

“Sementara di tangani,” katanya.

Terkait hal tersebut, media juga telah mengkonfirmasi ke Oknum Dokter FF melalui panggilan whats app, namun pihaknya enggan memberikan komentar. Media juga berusaha mengkonfirmasi ke Plt Direktur RSJPDO Oputa Yi Koo, Agus Purwo Hidayat dan Ketua IDI Sultra, Laode Rabiul Awal melalui panggilan whats app namun tidak mendapatkan tanggapan.

Dandi berharap agar kasus ini dapat diselesaikan dengan adil dan dokter FF dapat bertanggung jawab atas perbuatannya.

“Jangan kan untuk bertanya keadaan kakak saya, menengok saja tidak, oknum dokter ini tetap bersikukuh bahwa pihaknya merasa benar,” tuturnya.

Pihak keluarga juga merasa bahwa dokter FF telah menciderai profesi kedokteran dengan sikapnya yang tidak empati.

“Ini sama saja minciderai profesi kedokteran, tidak punya empati bahkan mungkin tak manusiawi,” pungkasnya.

Kasus ini telah memicu reaksi keras dari masyarakat dan pihak keluarga korban. Mereka menuntut agar dokter FF dapat bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak melepas tanggung jawab.

Pihak keluarga juga berharap agar RSJPDO Oputa Yi Koo dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan tidak melindungi oknum dokter yang bersalah. Mereka juga meminta agar IDI Sultra dapat mengambil tindakan tegas terhadap dokter FF.

Dandi berharap agar kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak dan tidak ada lagi oknum dokter yang tidak empati terhadap pasien.

“Kami hanya ingin keadilan dan tanggung jawab dari dokter FF,” ujarnya.

Pihak keluarga akan terus memperjuangkan kasus ini dan tidak akan melepas tanggung jawab dokter FF. Mereka berharap agar kasus ini dapat diselesaikan dengan adil dan dokter FF dapat bertanggung jawab atas perbuatannya.

Kasus ini masih dalam proses penanganan oleh pihak kepolisian dan diharapkan dapat diselesaikan dengan adil.

Laporan : Redaksi.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *