MEDIASULTRA.CO.ID I BONTANG – Sekolah dasar dinilai tidak lagi cukup hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Melalui riset disertasi yang dikembangkan di Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman, Ahmad Aznem menawarkan model baru yang menempatkan sekolah sebagai pusat penguatan ketahanan pangan keluarga sekaligus upaya pencegahan stunting.
Dalam artikel ilmiahnya bertajuk “Dekonstruksi POAC Sirkular: Menggandeng Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Hidroponik Presisi sebagai Jangkar Ketahanan Pangan Domestik Kota Industri”, Ahmad Aznem memperkenalkan model Integrated Food Security School-Based Management (IFS-SBM) yang merupakan hasil penelitian dan pengembangan (Research and Development).
Riset tersebut dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum., dan Co-Promotor Dr. H. Usfandi Haryaka, M.Pd.
Ahmad menjelaskan, selama ini sekolah masih dipandang sebagai institusi yang terpisah dari persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Padahal, menurutnya, sekolah memiliki potensi besar menjadi penggerak perubahan melalui tata kelola pendidikan yang terintegrasi dengan program ketahanan pangan.
“Melalui perluasan paradigma Manajemen Berbasis Sekolah, satuan pendidikan dasar memiliki kapasitas menjadi simpul strategis dalam mendukung ketahanan pangan keluarga siswa,” ujarnya.
Model IFS-SBM diterapkan melalui program Smart Tani Goes to School di Kota Bontang. Program ini mengubah pekarangan sekolah menjadi media pembelajaran sekaligus pusat produksi pangan sehat berbasis hidroponik.
Dalam penelitian tersebut, Ahmad melakukan rekonstruksi terhadap empat fungsi manajemen klasik atau POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
Pada aspek perencanaan, sekolah didorong menyusun strategi pembiayaan secara mandiri dengan memisahkan kebutuhan investasi awal dan biaya operasional. Dari sisi pengorganisasian, model ini membangun kolaborasi antara kepala sekolah, guru, orang tua, Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Sementara pada tahap pelaksanaan, sistem hidroponik murni berbasis nutrisi AB-Mix dipilih karena dinilai lebih praktis, higienis, hemat lahan, serta bebas pestisida kimia dengan penggunaan pestisida nabati.
Sedangkan pengawasan dilakukan secara berkelanjutan melalui pencatatan digital dan penerapan captive market internal, di mana hasil panen diserap oleh guru dan orang tua siswa. Keuntungan penjualan kemudian diputar kembali untuk membiayai operasional program.
Penelitian tersebut juga menunjukkan usaha budidaya sayuran sekolah memiliki nilai R/C Ratio sebesar 1,2, yang berarti layak dikembangkan secara ekonomi sekaligus menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi siswa.
Secara akademik, model IFS-SBM dibangun di atas lima pilar utama, yakni edukatif, rekreatif, inspiratif, informatif, dan inovatif. Pendekatan tersebut menggabungkan konsep pendidikan karakter, neurosains, motivasi berprestasi, konstruksi sosial, hingga pedagogi kritis dalam satu sistem pengelolaan sekolah.
Model tersebut telah diuji pada tiga sekolah dasar dengan karakter wilayah berbeda di Kota Bontang.
Di SDN 009 Bontang Utara yang berada di kawasan perkotaan padat, diterapkan pertanian vertikal dan budidaya microgreens. Sementara di SDN 005 Berbas Pantai, teknologi akuaponik apung digunakan untuk menghadapi tantangan banjir rob dan salinitas tinggi. Adapun SDN 002 Bontang Barat memanfaatkan lahan yang lebih luas sebagai kawasan pembibitan tanaman hortikultura dan tanaman obat.
Berdasarkan hasil validasi ahli, model IFS-SBM memperoleh tingkat validitas konten sebesar 92,8 persen, validitas konstruk 90 persen, serta tingkat kepraktisan 91,7 persen.
Atas hasil tersebut, Ahmad Aznem merekomendasikan agar pemerintah daerah dan dinas pendidikan menjadikan model IFS-SBM sebagai salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan kurikulum operasional sekolah yang lebih kolaboratif, akuntabel, dan berkelanjutan.
Menurutnya, perubahan besar dalam dunia pendidikan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar, tetapi dapat lahir dari inovasi sederhana di lingkungan sekolah.
Ia bahkan menyebut gagasan tersebut sebagai “Revolusi Selembar Polybag”, terinspirasi dari filosofi The One-Straw Revolution karya Masanobu Fukuoka. Jika Fukuoka menjadikan sebatang jerami sebagai simbol perubahan dalam pertanian, maka IFS-SBM menjadikan polybag dan instalasi hidroponik sebagai simbol transformasi pendidikan yang mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas gizi keluarga, serta membangun karakter dan kepedulian ekologis peserta didik sejak usia dini.*
















